iklan horizontal atas

Cerita Kiyai (Ahli) Vs Anak- Anak TK Dalam Mendalami Kitab Bahtsul Masail

Maschasil.com. Sepertinya dunia medos belum bisa "move on" dari keputusan Munas dan Konbes NU di Banjar, khususnya penegasan status "kafir" menjadi "muwathin". Kali ini saya tidak akan melanjutkan polemik. Karena, kiai-kiai muda NU sudah banyak--dan sering--menjelaskan kronologi, argumentasi, dan rasionalisasinya. Dari uraian yang sangat sederhana hingga analisis yang paling rumit. Semuanya dalam rangka menjernihkan duduk persoalan yang sebenarnya. Akan tetapi, upaya ini, seperti yang saya duga sedari awal, tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab, mereka yang "terganggu" dengan kemufakatan ulama ini memang sejak awal ingin cari masalah dengan NU. Jadi, abaikan saja raungan mereka. Toh, apapun yang kita katakan mustahil "masuk" dalam tempurung otak mereka yang sudah terlanjur cadas.

Cerita Kiyai (Ahli) Vs Anak- Anak TK Dalam Mendalami


Lebih baik saya mengelaborasi topik lain yang bisa jadi kerap luput dari pandangan khalayak, yaitu vitalitas "bahtsul masail" dalam organisasi NU. Usia Lajnah Bahtsul Masail secara formal sama tuanya dengan umur NU itu sendiri, sebab diinisiasi oleh Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy'ari tepat pada 31 Januari 1926. Meskipun kita juga mafhum bahwa dari aspek substantif, Bahtsul Masail sudah menjadi tradisi pesantren jauh sebelum NU lahir.

Baca juga : Kumpulan Kajian Kitab Taqrib dan Tanwirul Qulub Menjelang Ramadhan

Secara teknis, Bahtsul Masail umumnya dimulai dengan pembacaan sebuah kasus yang menurut kacamata publik penting untuk dibahas. Kemudian, kasus ini dipecahkan secara kolektif oleh peserta yang punya otoritas untuk mendiskusikannya. Jadi, tidak sembarang orang bisa jadi peserta aktif Bahtsul Masail dan bisa dengan leluasa menuangkan pendapat-pendapatnya. Selain mendasarkan preferensinya pada rujukan kitab-kitab kuning yang "mu'tabar", peserta juga mesti pandai menganalogikan esensi masalah. Dua syarat ini belum cukup. Masih ada satu unsur lagi yang juga tidak kalah penting sebagai kriteria peserta. Ia harus "expert" dalam metodologi "istinbath" hukum; fasih mencari "illat" yang pada ujungnya membawa "maslahah" bagi tatanan sosial. Melihat begitu sulitnya kriteria-kriteria ini, orang-orang "cepethe" macam saya bukan kelasnya mengikuti forum Bahtsul Masail yang biasanya didominasi oleh santri-santri senior dan kiai "faqih" yang duduk di jajaran Syuriyyah. Kita tinggal mengamini saja.


Saya heran, kok ada orang yang berani- braninya meremehkan, menentang, bahkan terkesan menghina keputusan-keputusan Bahtsul Masail hanya dengan modal "njeplak" di media sosial. Kalau memang tidak sepakat, mbok ya ajukan argumen ilmiahnya sebagai pembanding. Diskusikan dan kaji dulu dengan pakar-pakar lintas disiplin. Paparkan analisis metodologis lengkap dengan basis teori dan referensinya. Baru layak dihidangkan di depan kiai-kiai NU. Kalau asal ngoceh mah anak TK jagonya. Cerita Kiyai (Ahli) Vs Anak- Anak TK Dalam Mendalami Kitab Bahtsul Masail


Sekali lagi saya tegaskan bahwa Bahtsul Masail adalah forum prestisius di kalangan nahdliyyin yang tak sembarang orang mampu jadi membernya. Bukan kelasnya anak-anak TK yang masih belajar posting status di media sosial.

Salam Manis.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel