iklan horizontal atas

Ngamuk? 4 Cara Agar Tidak Mudah Mengamuk Ala Nahdlatul Ulama

Maschasil.com. Mengapa orang NU tidak mudah "ngamuk'an" meskipun sering terjadi perbedaan pendapat? Menurut penerawangan saya--walaupun mungkin kurang mendalam--jawabannya karena nahdliyyin sudah terbiasa dididik untuk mengakrabi "khilafiyah". Dalam forum Bahtsul Masail--baik level kecamatan yang dikoordinir Pengurus Majlis Wakil Cabang (MWC) maupun tingkat nasional yang diselenggarakan Pengurus Besar (PBNU)--misalnya, kita diajari bagaimana cara bertanya yang santun, berdiskusi yang diskursif, dan berdebat yang sehat, sebelum akhirnya disepakati menjadi sebuah kesimpulan. Ngamuk? 3 Cara Agar Tidak Mudah Mengamuk Ala Nahdlatul Ulama Bahkan, konklusinya pun tidak jarang bersifat tentatif karena adanya "ikhtilaf" atau perbedaan pendapat antara satu ulama dengan ulama yang lain.

Ngamuk? 3 Cara Agar Tidak Mudah Mengamuk Ala


Selain Bahtsul Masail, kegiatan "idarohan" keliling dari satu ranting NU ke ranting lain yang sudah menjadi habitus di kalangan warga NU juga berkontribusi besar dalam mengelola tradisi "ikhtilaf" sebagai medium perekat sosial. Seperti idaroh Syuriyahan tingkat MWC se-kecamatan Pajis Aji yang saya ikuti kemarin malam di Musholla Nurul Huda Dk. Gronggong Desa Tanjung Jepara. Di situ saya banyak belajar bagaimana cara Kiai Ahmad Barowi selaku Ketua MWCNU Kecamatan Pakis Aji mendidik kader-kadermya supaya tidak gampang terjebak dalam pusaran konflik.

Pesan penting Kiai Bahrowi dalam sesi sambutan yang sempat saya catat di antaranya:

1) Kita warga NU tidak perlu memaksa-maksa dan "misohi" orang lain dalam persoalan agama. Biarlah yang Islam tetap Islam dan yang Buddha tetap Buddha. Semuanya harus hidup rukun dan damai. "Nek mekso2 dadine ora bener. Ngko malah dipisoi Pancasila," katanya.

2) Kita sedang menghadapi masa-masa Pemilu. Sebagai nahdliyyin harus waspada dan jangan sampai terpecah-belah.

3) Jalin komunikasi yang baik di lingkungan kita. Siapa saja kita "sambangi" supaya "akur".

4) Jangan sekali2 lepas haluan dari NU. Sekarang banyak kelompok yang ingin meminggirkan NU. Kita berdoa semoga NU mengantarkan kita kepada jalan terbaik.

Setelah sesi sambutan, acara dilanjutkan dengan kajian kitab kuning yang dibagi ke dalam dua termin. Pertama, kajian Kitab Taqrib oleh Kiai Miftahus Sururi yang bernuansa fiqhiyyah. Kedua, kajian kitab Tanwirul Qulub oleh Kiai Mahmudi yang beraroma sufistik. Jika Allah berkehendak, suatu saat akan saya posting rangkuman materi pengajiannya. Yang pasti, usai penyampaian konten kitab, dibuka forum tanya jawab dan diskusi. Jadi, saya ingin menggarisbawahi, bahwa pengajian yang dilakukan oleh ulama-ulama NU sangat luwes dan tidak anti-kritik. Jauh dari kesan doktriner. Tidak ada sedikitpun anasir-anasir kebencian. Apalagi provokasi dan umpatan. Kalaupun ada yang tidak setuju, masih dibuka kesempatan dialog lanjutan. Bagi audiens yang bertanya, pasti akan dijawab oleh ahlinya. Ngamuk? 3 Cara Agar Tidak Mudah Mengamuk Ala Nahdlatul Ulama Tentu tidak spontan dan asal menjawab, sebab mereka telah disediakan tempat khusus untuk berdiskusi mencarikan jawaban sesuai dengan panduan kitab kuning yang dibawa. Kira-kira tiga puluh menit kemudian, mereka kembali dan menyampaikan jawaban sebagaimana hasil diskusi dari tim ahli. Begitu gambaran singkatnya.

Jadi, jangan khawatir. Jika penceramahnya kiai NU, bertanya apapun dan penanyanya siapapun, pasti akan dicarikan jawabannya. Bukannya malah diusir. Jika ada ulama NU, tapi modelnya "ngamuk'an", patut kita duga dia hanya ngaku-ngaku alias ulama jadi-jadian. Sejatinya dia masuk dalam salah satu atau semua kategori berikut: 1) NU Muallaf; 2) NU Murtad; atau 3) Barisan NU Sakit Hati.Ahmad Saefudin.

Salam Manis.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel